[Latest News][6]

Imajiner
Kampus
Kisah
MOTIVASI
Nasehat

Amanah itu apa?

BERDALIH KEBUTUHAN,

- Akhie..., demi dakwah. antum siap kan jika kita amanahkan disana?
+ Ehm.... gimana yah akh..? ane takut ga amanah akh. khawatir ga bisa melaksanakan nya dgn baik, ane khawatir bukan kemanfaatan yang akan timbul nantinya, malah kemudharatan.
- Akhie, klo bukan antum siapa lagi..?
+ ya, masih banyak koq akh..
- iya, emang masih banyak tapi siapa?
+ ya klo masih banyak, ya berarti siapa aja. insyAlllah masih ada yg lbh kapabel koq. antum coba cari dulu deh akh..
- Akhie... ga ada waktu lg buat nyari, ini urgent. Dakwah ini membutuhkan antm akh..
+Ehm.... ya udah deh akh, ane akan coba.

Monolog diatas, moga jadi refleksi kita bersama.
Kita sering sekali mencari pembenaran untuk melegalkan "keinginan2 kita" untuk membebankan amanah kepada seseorang. Apalagi "yang mengaku" Aktifis Dakwah. seringkali Berdalih atas nama dakwah, padahal saya ga tau dakwah yang mana yang dimaksud.

Dari contoh monolog diatas, si calon penerima amanah kan sebetulnya dipaksa, sampai akhirnya dia mau menerima yang di bebankan kepadanya. pake nama2 dakwah segala lagi. Siapa yang ga "keki" coba, klo kita terus-menerus di "goyang" idealismenya.

Atas nama dakwah!, meski jika ditanya dakwah yang mana, entahlah siapa yg akan mampu menjawabnya. Haruskah aku bertanya pada rumput yang bergoyang..??? layaknya Ebiet G. Ade. Ataukah saya bertanya pada malam seperti Peterpan..??

.....................................
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh” (Q,Al-Ahzab;72).

Ayat ini dapat dikatakan bersifat informatif sekaligus preskriptif (sarat dengan pesan dan peringatan), antara lain begitu beratnya amanah, sehingga semua makhluk selain manusia—yaitu langit, bumi dan gunung—menolak tawaran itu, karena mereka merasa khawatir tidak mampu melaksanakannya. Selanjutnya ketika amanat itu ditawarkan kepada manusia,—Adam As—lalu ia menerimanya (wahamalah al-insan), padahal manusia itu sungguh zalim dan bodoh. Ketika itu Adam tanya kepada Allah “Ya Allah apa faedahnya dengan amanah itu buat diriku (manusia)?” Lalu Allah menjawab; wahai Adam; in ahsanta wa ‘atha’ta wa ra’aita al-amanata falaka ‘indi al-karamati wa al-fadhli wa husna al-tsawabi fi al-jannati “Bila kamu melaksanakannya dengan baik, taat,dan menjaga amanah tersebut, maka kamu mendapat kemuliaan, keutamaan (pahala) serta memperoleh balasan yaitu (surga), dan sebaliknya bila kamu melakukan kemaksiatan dan tidak menjaga hak-hak amanah tersebut, maka sesungguhnya Allah akan mengazabkanmu dan menempatkanmu di dalam neraka.(lihat Ibn Katsir; 1993/501). (diambil dari: http://www.harian-aceh.com/opini/85-opini/2215-amanah-dalam-konteks-al-quran-.html)

Sungguh merinding tubuh ini ketika membaca ayat diatas. Sebegitu bodohnya manusia, hingga mau memegang amanah itu. Padahal Gunung yang -secara postur- lebih besar dr manusia enggan dan menolak amanah dr Allah, tp kita, manusia yang kerdil ini mau menerimanya.

Amanah itu wajib kita tunaikan. seperti layaknya ibadah, kita harus senantiasa melaksanakannya dengan sepenuh hati penuh ke ikhlasan. jika ibadah kita artikan hanya sebagai ritual belaka, suatu saat nanti kita bisa saja meninggalkannya, jika sudah tidak ada lagi kemanfaatan yang kita peroleh darinya. Tetapi ibdah bukan semata ritual sebagai penggugur kewajiban semata, tapi harus ditanamkan dalam diri bahwa ibadah adalah sebuah konsekuensi logis, kepatuhan kita kepada sang Pencipta, atas apa yang telah Dia berikan kepada kita.

Ini yang mungkin jadi kegelisahanku, kenapa setiap kali di amanahkan sesuatu, ada ketakutan yang menggelayut di hati, aku takut aku khianat, aku takut aku maksiat, dan aku takut atas siksa-NYA, seandainya kita "lecor" pada amanah itu. aku harus menghitung2 kembali manfaat dan madharat nya untukku. bukan karena aku pilih2, tp karena aku takut ga bisa menjalankan amanah itu .... Ya ALLAH, kuatkanlah pundak ini untuk memikul amanah ini...

.............................
Aku teringat, beberapa saudaraku yang dengan enaknya menerima semua amanah yang diberikan kepadanya. Entahlah, karena apa dia mau menerima amanah itu, saya tidak mau bersu'udzon tentang itu, mski akhirnya tetap ada rasa yang mengganjal d hati, kenap koq dia mau...???

Ah...., saya ga bisa nyalahin saudara saya itu sepenuhnya, karena biasanya (meski ga bisa men-generalisir juga), ada orang2 yang menawarkan amanah itu kepadanya, dan berarti kesalahan bukan terletak pada yang menerima amanah itu, tetapi kesalahan bisa jadi ada pada yang memberikan amanah. Koq gitu? iya dong, harusnya setiap kita mau memberikan amanh kepada seseorang, lebih dulu kita analisis kebaikan dan kemafsadatan amanah itu jika diamanahkan kepada orang yang tidak tepat.
.............................

Saya heran dengan ulah bebrapa oknum, yang coba memberikan amanah kepada seseorang, tetapi kadang secara serampangan menganalisa kondisi pribadi yang akan diminta memegang satu amanah itu. Pernahkah mereka mencoba mengalisa secara komprehensif latar belakang si calon pemegang amanah itu? saya rasa tidak (bukan bermaksud su'uddzon).

Buktinya, setelah kemudian di analisis lagi, ternyata kita "kecolongan" dengan bebrapa ulah si pemegang amanah. inilah yang kemudian harus menjadi refleksi kita bersama.
...............................
(bersambung...)

About Author Mohamed Abu 'l-Gharaniq

when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search