-::Beginilah Mereka mengajariku tentang Kehidupan::-
Setiap kata dalam tulisan ini mungkin tak berarti apa-apa buat para pembaca, tetapi tidak buat saya, ini adalah sekumpulan mozaik yang menginspirasi dan mengajarkan saya lebih mengerti akan sebuah tanggungjawab, tentang sebuah kepekaan, solidaritas dan cinta.... (prikitiw... he..he.. cinta bae cinta ^_^v)
Ini adalah kisahku selepas Training Manajemen Dakwah I angkatan XIII
Hm... Pagi ini di temani semilir angin kampung, bersama rerumputan yang masih basah oleh embun malam dan sembari memandang langit mendung, saya teringat hari itu, kejadian-kejadian itu, saya melihat berbagai kebaikan di negeri nyata, di tengah hiruk pikuk egoisme kekuasaan, di tengah pongahnya individualisme manusia dunia. Ini adalah ceritaku tentang pengorbanan beberapa sahabat-sahabatku, pengorbanan yang sangat jarang sekali kutemukan di tengah pragmatisme manusia. Maukah kau kawan kuceritakan tentang kisahku bersama mereka? Ah.. Saya tak peduli, jika pun kau menjawab tidak, saya akan tetap menceritakan kebaikan mereka. Terlebih jika kau menerima kisah ini, saya akan lebih banyak lagi menceritakannya kepadamu.
Saya benar-benar terharu, ketika kejadian itu membuatku tersadar, ternyata masih ada orang-orang yang hatinya masih diselimuti kebaikan, masih ada orang-orang yang peduli. Mereka melakukan apa yang bisa mereka lakukan dan memberikan apa yg mereka punya hanya untuk saudaranya yang mungkin baru dikenal beberapa bulan saja. Oh... Iri rasanya diri ini pada mereka, karena sungguh kecil pengorbanan diri ini jika di bandingkan dengan kebaikan-kebaikan mereka. Ya allah..., lindungilah mereka dan berikanlah tempat yg terbaik bagi mereka di dunia-MU dan akhrat-MU. Amin.
Pertama, Saya ingin bercerita tentang salah seorang ikhwan (laki2) yang rela mengerjakan hal-hal kecil dan remeh-temeh, bahkan saya anggap tidaklah pantas jika ikhwan ini yg mengerjakannya, karena pekerjaan ini hanyalah pekerjaan kecil yang seharusnya di berikan kepada orang2 yang (maaf) kecil pula secara keilmuan, dan tanggung jawab.
Maukah kau tau apa yang dikerjakan ikhwan tadi? Mencari mobil (transportasi) yang akan kami gunakan untuk mengantar kami dan peserta training dari Serang menuju Cilegon, dan maukah kau tau siapa ikhwan yang kumaksud? Ah.. Pasti kau akan kaget jika kukatakan siapa ikhwan itu, dia adalah ketua umum LDK Ummul Fikroh!, dengan jabatan Ketua Umum, tapi rela melakukan tugas kecil ini. Subhanallah. saya teringat kisah amirul mukminin Umar ibn al khaththab yang dengan pundaknya sendiri memikul gandum untuk seorang ibu yang 2 anaknya kelaparan. Padahal si ibu itu telah memaki2 sang amirul mukminin. Subhanallah.
Kedua, kisah ini tentang amanah dan tanggung jawab. Masih ingat tulisanku `amanah itu apa`? (tulisan yang pernah saya posting di Facebook). Hidup itu amanah, karena semua ini akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Kisah ini tentang dua orang akhwat (perempuan) yang karena amanah yang di berikan kepadanya, mereka rela berpanas2an meluncur dari Serang ke Cilegon dengan sepeda motor yang di pinjam dari ikhwan, hanya untuk meninjau lokasi yang akan digunakan untuk acara training kami pada hari terakhir, padahal, semua ini bisa dilakukan esok harinya pada saat sudah di lokasi (Cilegon). Entahlah, apa alasan akhwat itu merelakan waktunya, disaat banyak perempuan2 yang enggan untuk berpanas-panasan, karena sayang dengan kelembutan kulitnya, sampai2 kalo ada urusan yang berkaitan dengan urusan lapangan (terkena matahari) pasti akan di take over ke ikhwan. Yah, ini mungkin karena amanah yang diberikan kepada mereka. Saya tidak melihat "kemanjaan" seorang perempuan pada diri mereka, biasanya hal2 teknis yang berkaitan dgn tempat acara & setingan acara dibebankan kepada ikhwan, akhwat hanya menerima transfer informasi dan hanya sebagai pelengkap/ pembantu lancarnya kegiatan saja. Saya salut pada orang2 yang menjunjung tinggi amanah. Padahal, hari ini begitu banyak para pemegang amanah yg ingkar terhadap beban amanah yang dipikulkan kepadanya. Hari ini saya belajar tentang tanggung jawab.
Ketiga, maukah kau kuceritakan tetang solidaritas? Ah.. Sudahlah, meski kau tak mau dengar, saya akan tetap berkisah. "akh, pemateri pengganti ustadz X (nama ustadz sengaja saya pake inisial) sudah ada belum? Kalo belum, gimana kalo ustadz ini ja? (dg menuliskan beberapa nama ustadz) Tanya seorang akhwat lewat pesan singkat. Dan saya berterima kasih karena lewat perantara akhwat ini, semua materi training kami tak ada yg terlewat karena tidak ada pematerinya.
Ini hanya kisah awal dari perjalanan kisah akhwat yang kuceritakan ini, masih maukah kau dengar ceritaku? Lagi-lagi aku tak peduli. "akh, akhwat ada yang pingsan dari kelmpok dua" sms salah satu ikhwan ke handphon-ku. saya panik, tak tau apa yang harus saya lakukan, karena posisiku saat itu jauh dari posisi akhwat yang pingsan itu, terlebih lagi saya tidak mungkin menggendong akhwat itu..(ups,..afwan). Tak lama berselang setelah sms ikhwan itu...., "akh, sekitar sini ada klinik ga’? Di sebelah mana? Tanya akhwat yg sedang kuceritakan ini. Dia membawa akhwat yg pingsan itu dengan sepeda motornya. “Waduh, jam segini mah belum buka ukh, tapi coba antum gedor aja pintunya..” jawabku. Taukah kau apa yg selanjutnya dilakukan oleh akhwat dalam kisahku ini? Dia lagi2 mengantar beberapa akhwat yang tak kuat melanjutkan perjalanan dari lokasi training (SD peradaban cilegon) menuju taman rekreasi Wulandira. Saya sempat berpikir, sudah berapa banyak bensin yang dia habiskan dengan motornya untuk bolak-balik mengantar peserta yang kelelahan, “sudah mirip tukang ojek saja akhwat ini Akh” (bisik seorang ikhwan). Padahal saya tau, motor yang dia gunakan termasuk motor yang boros. Subhanallah, hari ini saya belajar tentang solidaritas.
Keempat, sekarang saya ingin bercerita tentang sebuah kepekaan. "Akhi, ada infokusnya kan?" pesan seorang ustadz lewat handphone-ku. saya sedang tak punya pulsa, dan pesan itu tak langsung kubalas. Handphone-ku kembali bergetar, ternyata ada panggilan masuk dan kudapati sebuah nomor baru, saya terima telpon itu. "Assalamu'alaikum..." kujawab salam itu "Alaikumsalam warahmatullah", Waduh.... saya kenal suara ini, ini suara ustadz yang tadi mengirimkan pesan singkat. "hmm.. iya ustad.." dan mulailah percakapan, sang Ustad masih menanyakan infokus, saya tak sanggup menjanjikan, sebisa mungkin saya beralasan dengan sebenar2nya, karena memang infokus yang kami pinjam hanya boleh dipinjam sehari saja, yaitu pada hari pertama training dan untuk hari kedua dan ketiga kami terpaksa tak memakai infokus. Dan akhirnya ustadz tadi menerima jika kami tak bisa menyediakan infokus.
Tak lama dari percakapan dengan ustadz di telpon tadi, ustadz itu kembali mengirimkan pesan lewat handphon-ku. "Akhi, siapkan kain putih/ whiteboard, ana bawa infokus". Alhamdulillah... sahutku bersama beberapa ikhwan yang sedari tadi berkumpul dan memikirkan kemana kami harus nyari infokus (he..he..mikir doank tapi ga kerja).
Suara motor terdengar memasuki area SD peradaban Cilegon, dua orang ikhwan turun dan mengucap salam, serentak kami jawab salamnya. "Akh, ini infokusnya" salah seorang ikhwan memulai percakapan. "Alhamdulillahirobbil alamin, baru aja ustadz minta infokus akh, ya sudah langsung pasang aja akh”, pintaku kepada ikhwan yang lain. "Iya nih, kebetulan tadi ane lewat dari rumah, ane inget kalo biasanya ustad minta infokus, makanya ane coba pinjem. itupun pinjemnya langsung ke rumahnya bukan di kantor (ini juga pinjemnya pake sok akrab akh, bisik ikhwan tadi). tapi klo udah beres acara, langsung dibalikin katanya, lanjut si ikhwan.
Subhanallah.. ternyata masih ada orang2 yang peka terhadap apa yang kita butuhkan. sampe2 si ikhwan tadi dengan rela meminjamkan infokus karena dia ingat kebiasaan sang ustad. Alhamdulillah.. akhirnya sang ustad bisa menggunakan infokus. Meski ustad ini membawa infokus sendiri, kami berinisiatif memakai infokus yang tadi dipinjam oleh ikhwan teman kami. dan kali ini, aku belajar tentang kepekaan.
Kelima, satu dari sekian banyak permasalahan yang kami hadapi dalam setiap kegiatan adalah masalah keuangan. Ini juga yang kami hadapi. Kisah ini saya dapatkan dari seorang ikhwan (ketua LDK). ikhwan itu bertanya, "Akhi, kira2 uang buat transport butuh berapa yah? uang di bendahara OC masih cukup ga’?". "Wallahu a'lam akh, coba tanya sama OC deh" jawabku, sembari mencari ketua OC. “emang kenapa akh?” tanyaku lanjut. "tadi bendahara umum nanyain, uangnya cukup ga buat transport? kalo kurang, bendahara mau kesini nganterin uang" jawab ikhwan tadi. saya dan ikhwan tadi masih berbincang tentang kondisi keuangan acara. "Akhi, bukannya bendahara lagi mudik, lagi jadi suster di rumahnya?" tanyaku pada si ikhwan. "Iya, tapi kalo keuangan OC kurang, bendahara mau nganterin uang, katanya". “Waduh, ga usah sih akh, kalo uangnya kurang mah entar bisa pinjem dulu ma temen2 disini, Bendahara ga usah kesini lah, kan dia lagi birrul walidain (berbakti pada orang tua). ntar kalo dia kesini, kasian orang tuanya ga ada yang nemenin, lanjutku pada ikhwan itu. "Ya, udah. ntar ana sms deh" jawab si ikhwan.
Subhanallah... hari ini saya belajar tentang perhatian dan tanggung jawab dari Bendahara. Dia rela meninggalkan kesibukannya di rumah, jika dia memang benar2 dibutuhkan. Padahal saya tahu, saat ini dia sedang sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang anak perempuan yang ingin memberikan yang terbaik pada ayahnya. "jadi suster untuk bapak", sahut bendahara itu saat saya tanya kenapa bendahara besok (hari kedua training) tidak bisa datang ke cilegon. Allahu Akbar! Disela-sela pengabdiannya sebagai seorang anak, dia masih memberikan perhatian pada kami semua.
Keenam, dikisah ini saya belajar tentang kesabaran. Kisah ini tentang seorang ikhwan teman kami. "Persiapkan diri antum, untuk longmarch esok hari" Closing statement dari si ikhwan ini, sesaat setelah dia menjadi moderator pada salah satu materi training. Waduh, “akhi... kenapa dikasih tau, kemarin udah saya bilang, jangan pernah memberikan sinyal bahwa kita besok akan longmarch dari SD peradaban Cilegon sampai ke Wulandira, kesalku pada si ikhwan itu setelah ikhwan itu keluar dari ruangan materi. "Tapi udah ada yang tau koq akh... si itu juga udah tau kalo kita akan longmarch" jawab si ikhwan. "Iya, saya juga udah tau kalo ada beberapa peserta yang udah tau. tapi kan kesepakatan rapat kemarin, panitia jangan ada yang ngasih tau kalo kita besok akan longmarch, biarkan peserta taunya kita tuh besok outbond bukan longmarch" kesalku lagi pada si ikhwan.
Akhirnya, percakapan saya dengan ikhwan tadi tersudahi karena ada agenda2 lain yang harus saya selesaikan. Sesaat saya melihat raut wajah dan air muka si ikhwan tadi, saya melihat ada gerutan2 kekecewaan dari wajahnya yang mengisyaratkan kekesalannya atas sikap saya tadi. Esok paginya, saat saya dan beberapa panitia menyusuri rute longmarch, ada panggilan masuk ke handphone saya, ternyata dari ikhwan yang sedang kuceritakan ini. "akhi, antm dimana?" tanya si ikhwan. saya malah balik tanya, “antum yang dimana?. Kemudian ikhwan itu jawab "ana ada didepan indomart akh, tapi koq ga da panitia satupun, antum lagi pada dimana?". “Indomart? Hey.. antum tadi lewat mana? dari pradaban lewat kiri kan? tanyaku. "bukan akh, tadi ane lewat kanan" jawab si ikhwan. Lagi2 dengan nada sedikit kesal saya menyuruh ikhwan tadi berputar arah, "pokoknya antum harus balik arah, antm nih ngatur sendiri aja". akhirnya si ikhwan berputar arah, dan saat kami bertemu tepat di indomart tempat ikhwan tadi nunggu, si ikhwan dengan sedikit kesal menegur saya "ane tadi udah di sini akh, antm nih nyuruh2 ane muter lagi". Lagi2 saya mendapati kekesalan dari wajah si ikhwan ini. tapi Subhanallah... saat kami bertemu kembali pada pos pemberhentian terakhir, kami akhirnya akrab kembali, meski kemarin dan tadi pagi wajahnya diselimuti kekesalan. semoga tak ada sedikitpun rasa kekecewan itu lagi. terhapus oleh kesabaran ikhwan ini. Subhanallah... saya mulai belajar tentang kesabaran dari si ikhwan ini. Terima kasih.
Ketujuh, “Ukhti, keputrian mana? Koq belum nongol2 dari tadi pagi”, tanyaku pada salah seorang akhwat. “Lagi di kost-an akh, lagi nyiapin konsumsi”, jawab akhwat. “Lho emangnya hari ini masak?”, tanyaku lagi. “Iya akh, kemarin kita rapat lagi, karena kondisi keuangan kita menipis, dari hari pertama kita udah masak sendiri, makanya tadi malem, antum disuruh sms-in peserta ikhwan buat bawa perbekalannya dari hari pertama, biar kita bisa langsung masak akh”, jawab akhwat menerangkan detil. “Oh, gitu....” saya coba mengerti.
“Akhi, keputrian ga ikut kesini (Cilegon)? Tanyaku pada Ketum. “Kurang tau akh, ane juga dari tadi ga liat” jawab Ketum. Sesaat kemudian saya tau kalo ternyata keputrian lagi ada di rumah salah satu panita yang kebetulan tak jauh dari lokasi training. “lagi nyiapin buat konsumsi akh,” sahut seorang akhwat. “Ciee.... mentang2 keputrian kerjaannya masak mulu nih,” lirihku dalam hati. “Naluri keputrian akh,” sahut ketum, yang kebetulan masih bersebelahan dengan saya..
Sebenarnya, saya sempat berprasangka yang engak-enggak sama akhwat ini, habisnya dari hari pertama (lebih tepatnya dari mulai pembukaan acara), dia ga kelihatan sama sekali. Tetapi setelah beberapa info yang masuk, lagi-lagi dia sedang mempersiapkan konsumsi untuk kami para panitia dan peserta. Subhanallah, hari ini saya belajar tentang kesederhanaan dan kesehajaan, dia tak silau dengan popularitas, dia rela berada di belakang layar, untuk mempersiapkan kebutuhan perut kami, Sungguh besar pengorbanannya. Terima kasih
Kedelapan, setelah kami semua berkumpul di tempat tujuan (taman rekreasi Wulandira). saya iseng godain ketua pelaksana acara training ini. “Yee... baru segini aja udah KO, cemen nih”. “Antum sih enak akh, semalem udah tidur, ane belum tidur sama sekali nih dari tadi malem”, jawab ketua pelaksana. "Ya suruh siapa antum ga tidur, wonk yang lain mah istirahat geh, antum malah nonton KCB kan?" lanjutku. (Widih... kauran bae, lagi ane kegiatan geh kauran nonton film KCB).
Inilah hanya sekelumit pengorbanannya, rela tetap terjaga agar esok pagi tidak ada panitia ikhwan yang kesiangan untuk persiapan longmarch.
Kesembilan, mungkin saya menyebutnya jihad mal. Karena ikhwan ini kehilangan uangnya demi mensukseskan acara, mungkin juga bukan hanya si ikhwan yang kuceritakan ini saja yang jihad dengan hartanya, karena banyak yang tak terekam oleh saya beberapa panitia yang merelakan hartanya demi suksesnya acara training ini.
Ada beberapa kisah menarik dari beberapa ikhwan yang merelakan hartanya untuk acara ini. Karena saking pengennya sampe ke tempat lokasi, ada ikhwan yang nekad meluncur dari Serang ke Cilegon meski dia tidak tau kemana arah jalan ke tempat acara. Sampe2 dia berkenalan dengan polisi yang sedang melakukan razia sepeda motor, dan motornya kena ciduk, ditambah dia lupa bawa STNK motornya, ya sudah, makin parah lah kisah ikhwan ini. Meski akhirnya si ikhwan ini bisa mendapatkan motornya kembali. Selanjutnya, kisah ini milik sekretaris OC, berniat ingin memberikan yang terbaik untuk temen2 peserta dan panitia setelah penutupan di wulandira, dia mencari mobil bus yang akan mengantarkan kami kembali ke Serang, setelah mendapatkan mobil dan mengangkut barang2 bawaan kami yang masih berada di Cilegon, dia berencana menjemput teman2 di wulandira. dan tak dinyana, panitia dan peserta yang sedari ada di wulandira, ternyata sudah pulang dengan mobil yang lewat dari wulandira menuju serang, dan mau tidak mau, sekretaris OC ini merogoh koceknya untuk membayar mobil bis itu sampai ke serang (kampus). Lalu ada juga kisah ikhwan yang lain, sungguh naas teman kami yang satu ini, berharap cepat pulang dengan motor pinjaman dari ketum, ternyata semakin lama dia bersama motornya, karena ban motornya betus dan harus diganti, ditambah klaher motornya rusak dan akhirnya dia pun harus merogoh kantongnya untuk membiayai motor yang dipinjamnya itu.
___***___
Ini hanyalah sekelumit kisah dari mereka, yang mungkin memang tidak berarti apa-apa buat pembaca, tapi sungguh, ini sangat berarti buat saya. Di tengah kegundahan hati memegang amanah ini, ternyata masih banyak alasan yang menguatkan saya untuk tetap melanjutkan amanah ini.
Subhanallah... sungguh besar pengorbanan antum semua wahai saudaraku. Semoga pengorbananmu akan di balas dengan yang jauh lebih baik dari apa yang antum telah berikan untuk suksesnya acara ini. Terima kasih sudah menjadi inspirasiku, terimakasih karena antum mengajariku tentang banyak hal.
Kisah-kisah di atas hanyalah sekelumit dari banyaknya kisah2 pengorbanan ikhwan dan akhwat LDK Ummul Fikroh dalam mensukseskan acara training manajemen Dakwah 1 angkatan XIII. mohon maaf apabila kisah antum saya rangkai dalam tulisan ini, bukan bermaksud membuat antm malu atas apa yang antum lakukan, tapi saya hanya ingin memberitahukan pada semua orang bahwa antum semua adalah orang2 yang rela berkorban. Biarlah rangkaian kata2 ini terangkum dalam memori kehidupan, untukku dan hanya untukku. Semoga ini adalah awal dari kehidupanku bersama kisah-kisahku
Cilegon-Serang, 01-02 Maret 2010
Begitu banyak warna dalam perjalanan kita, ada yang tetap bertahan, namun tidak sedikit yang pergi meninggalkannya. Beginilah jalan da’wah mengajarkan kita tentang ukhuwah, tentang pengorbanan dan keikhlasan. Kadang kesal, kadang lelah, kadang ada canda dan tawa. Tak kuat rasanya untuk bertahan, namun sayang tuk ditinggalkan. Kadang hati bertanya, “yaa Allah…kapan kami bisa beristirahat dari jalan ini?” Lalu Allah menjawab, “ketika kaki-kaki kalian menginjak surga…” semoga, Allahumma amiin…
Lupakanlah kebaikan-kebaikan yang pernah kamu lakukan kepada orang lain, tapi jangan sekali-kali kamu melupakan kebaikan-kebaikan yang pernah orang lain lakukan terhadapmu. Lupakanlah keburukan-keburukan yang pernah orang lain lakukan terhadapmu, tapi jangan sekali-kali kamu melupakan keburukan-keburukan yang pernah kamu lakukan terhadap orang lain. (Ust. Rahmat Abdullah).
No comments:
Post a Comment