[Latest News][6]

Imajiner
Kampus
Kisah
MOTIVASI
Nasehat

CINTA [TAK] Harus Memiliki*

Conspirasi


“Jadi, apakah anda hendak mengatakan bahwa apa yang saya rasakan itu, sesuatu yang menggelikan dan anda pun menertawakan hal itu?” lambaran suaraku terasa kering.


“Tidak begitu, Nona. Saya hanya memikirkan, mengapa  para manusia justru sering mengerdilkan makna cinta hanya karena ingin memenangkan keinginannya?”


“Maksud Tuan?”


“Salah satu tabiat dari cinta adalah kerinduan. Begitu, bukan? Dan kerinduan akan mampu terobati saat kita bersua dengan sosok yang kita cintai itu. Oleh karenanya, banyak orang yang kemudian mengidentikkan cinta dengan bersatu dengan sosok yang kita cintai. Padahal, cinta sendiri itu sesuatu yang teramat suci, dan justru bahkan akan terkotori jika dipertemukan dengan keinginan.”


“Jadi, menurut anda, cinta itu tak harus memiliki?” pertanyaanku mengambang. Mendadak ada sembilu yang menyusup ke hatiku, dan terasa begitu perih saat mengiri-iris hatiku. Dalam keadaan seperti ini, sungguh aku merasa tersedot dalam lumpur.


“Cinta ibarat 24 karat, Nona. Sementara, keinginan atau nafsu manusia itu, ibarat pencampur. Kian banyak pencampur, kadar emas menjadi tak lagi murni lagi. Kadang begitu banyak pencampur, membuat sesuatu terlihat berkilau selayaknya emas, namun sebenarnya hanyalah imitasi belaka.”


Aku termenung. Begitukah? Jadi, selama ini aku sungguh telah mencampuri cinta yang murni itu dengan pencemar berupa keinginan, yang bahkan telah begitu banalnya. Kejadian malam itu sungguh memalukan.


“Akan tetapi, Tuan…  bukankan manusia memang diciptakan dengan keinginan-keinginan? Dengan hasrat untuk memiliki sesuatu? Dan justru dengan hasrat itulah, seorang manusia bisa mendapatkan apa yang ia ingin peroleh?”


“Ya, dan bahkan hasrat itulah sesungguhnya yang membuat manusia bertahan hidup. Bayangkan, jika manusia tak memiliki hasrat .. misalnya hasrat untuk menikmati makanan tertentu. Akan tetapi, batas dari hasrat itu sesungguhnya adalah kebutuhan. Bukan keinginan. Akan ada satu titik pertemuan antara hasrat dan kebutuhan. Manusia akan bijak dan selamat jika cukup beranjak pada titik itu.”


“Jadi …” kerongkonganku sesaat dipenuhi sedan. “Jadi, jika saya mencintai Tuan Rangga, apakah saya harus korbankan rasa cinta itu begitu saja? Tak wajarkah jika sebagai seorang pecinta, saya menginginkan cinta itu mendapatkan balasan?”


“Tentu, wajar …  wajar sekali …”


Isakku terdengar. Awalnya perlahan, lama-lama meninggi suaranya. Semula terasa memalukan. Namun, lama-lama aku merasa bahwa saat ini, aku memang membutuhkan air mata untuk melumerkan gumpalan rasa yang telah sekian lama memacetkan aliran emosiku. Aku pun membiarkan bendungan air mataku jebol.


Tuan van Persie pun sepertinya mengetahui bahwa menangis adalah satu kebutuhanku saat ini. Ia diam, dan hanya memandangiku dengan wajah penuh empati.


“Ekspresikan cintamu dengan merawatnya sebaik mungkin, Nona! Rawatlah dengan ikhlas. Sesungguhnya, cinta itu takdir Ilahi, tak ada cinta yang muncul tanpa kehendak sang Maha Pencinta. Dan bersatu dengan orang yang kita cintai, juga takdir. Sesame takdir, tak boleh ada yang disebut lebih baik atau lebih buruk. Namun, tak ada salahnya jika kita memohon  agar takdir yang Tuhan hendaki, sejalan dengan apa yang kita ingini.”


Sesaat, aku terlongong dalam labirin rasa yang haru-biru. Air mata telah berhenti, namun aku justru merasa jiwaku seringan kapas. “Ya, sebaiknnya saya memang tak terlalu kukuh memenjarakan diri dalam terali besi harapan. Cukuplah agar rasa cinta ini menyublim menjadi udara yang justru mampu memasuki celah sekecil apapun di seluruh bagian tubuhnya. Saya akan mencoba meskipun sangat sulit.”


------------


Note:


Tulisan ini adalah jiplakan dari Buku Da Conspiração (buku Ke-3 Tetralogi De Winst Karya Afifah Afra), dengan "menghilangkan" satu bagian percakapan. "Penghilangan" percakapan dimaksudkan agar tulisan ini dapat dipahami secara umum (tidak khusus untuk situasi tertentu). Semoga "penghilangan" tersebut tidak mengurangi substansi dari buku tersebut. Seraya saya memohon maaf kepada Penulis (Afifah Afra) dan meohon Ampun kepada Allah swt. Dan semoga Allah merahmati Penulis (Afifah Afra beserta keluarga) dan sekalian pembaca, aamiin :)


*Judul tulisan ini murni karangan pemilik akun blog ini (bukan berasal dari buku tersebut). Seru dah pokona... Ini novel pembangkit Idealisme, Nasionalisme. Novel berlatar sejarah (menuju) kemerdekaan Republik Indonesia :)

About Author Mohamed Abu 'l-Gharaniq

when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search