Where is the Love...
Ehm... ini adalah tulisanku sekitar 3 tahunan yg lalu (sebenarnya dipaksa nulis ma Mr.Hilal Ahmad), saat masih semester 2, bercerita tentang kegelisahan yang tak kunjung usai....Hfuih... . Tulisan ini juga dimuat dalam kumpulan tulisan "Masih Ada Cinta" ..... ^_^v

Kita berada di dunia yang selalu berubah. Setiap saat selalu ada hambatan yang senantiasa menghadang. Entah dari belakang, depan, atau dari arah yang tak pernah kita perkirakan sebelumnya. Satu demi satu dari kita lepas, dan tercerai hingga merasa tak mampu untuk mengikatkan lagi tali yang telah dipintal. Entah siapa yang harus disalahkan, karena semua tidak mau menjadi orang yang disalahkan.
Hidup memang tidak selamanya berjalan mulus. Allah memang merancang dunia ini dengan pergantian-pergantian agar kita dapat mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Pernah kita bosan dengan apa yang kita lakukan. Pernah juga ingin keluar dari lingkaran, tapi itu semua tak mampu meredam kegelisahan.
Sebuah Loyalitas
Kita sadar akan pentingnya sebuah loyalitas. Namun bukan loyalitas yang hanya sekadar ritual dan simbol-simbol bagian dari sebuah loyalitas, tapi yang diperlukan adalah sebiuah komitmen (iltizam) yang benar-benar mampu menyirami dahaga dengan air yang menguatkan sendi-sendi kehidupan.
Dakwah memang berat. Namun akan terasa ringan jika dikerjakan dengan keikhlasan hati, tanpa harus membeda-bedakan kelas apalagi senioritas dan junioritas. Kita adalah satu, yang memerlukan kerjasama untuk mencapai apa yang ingin kita cita-citakan. Tapi terkadang semua itu berat untuk dilakukan. Terkadang ada orang yang menginginkan kita seperti ini dan ini tanpa pernah tahu apa yang kita inginkan.
Kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan, keburukan, maupun kelalaian. Namun ternyata sikap yang kita anggap itu kebaikan tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah. (Calon Orang Besar Memulai Perubahan, Aa Gym).
Lagi, Lagi, dan Lagi
Dualisme, tigalisme, bahkan empatisme. Mungkin itulah yang selalu menjadi wacana dalam keseharian kita. Entah apa yang jadi penyebabnya. Kekurangan kader, ataukah memang kita yang murah dan mudah mengemban sebuah amanah. Hingga seolah-olah tidak pernah memperhatikan orang-orang yang ada di samping kita.
Ukhuwah Kita
Terkadang kita menjadi orang-orang yang sangat idealis. Sehingga menganggap hanya kitalah yang paling bisa. Tapi entah bagaimana yang harus dilakukan ketika orang-orang yang berada di samping kita tidak peka terhadap apa yang harus terjadi. Sehingga sebuah pekerjaan yang seharusnya menjadi momen indah, hilang terbawa arus gelombang kehidupan.
Lalu Dimana Cinta Kita
Kita hidup di alam yang senantiasa mengikuti arah mata angin. Kadang ke barat, timur, utara, selatan, atau bahkan berputar ke semua arah (yang seyogyanya kitalah yang harus mengendalikan arah mata angin tersebut). Jika kita tidak benar-benar mampu untuk berpegangan, kita pasti terhempas oleh kencangnya angin kehidupan. Meski bagaimanapun, kita akan tetap merasakan kencangnya angin tersebut.
Satu hal yang perlu kita sadari, kita disini disatukan oleh cinta. Yakni cinta yang Allah berikan tidak kepada setiap orang. Hanya sebagian saja. Yakni cinta kepada dakwah. Hanya masalahnya sekarang apakah kita menjadi terlena dengan anugerah itu. Ataukah kita telah benar-benar menjaga kesucian cinta itu. Hanya masing-masing dari kitalah yang mampu untuk menjawabnya.
Sekarang, marilah kita mulai berbenah diri dari segala bentuk kebodohan yang telah ataupun yang belum kita kerjakan. Untuk hidup kita, untuk sosial, untuk dakwah, dan untuk satu nama yaitu al-Haq. Selamat berjuang di jalan yang berduri.
Cholidudin, Muamalat (Griya Tamaddun, Mei 2007)
Kita berada di dunia yang selalu berubah. Setiap saat selalu ada hambatan yang senantiasa menghadang. Entah dari belakang, depan, atau dari arah yang tak pernah kita perkirakan sebelumnya. Satu demi satu dari kita lepas, dan tercerai hingga merasa tak mampu untuk mengikatkan lagi tali yang telah dipintal. Entah siapa yang harus disalahkan, karena semua tidak mau menjadi orang yang disalahkan.
Hidup memang tidak selamanya berjalan mulus. Allah memang merancang dunia ini dengan pergantian-pergantian agar kita dapat mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Pernah kita bosan dengan apa yang kita lakukan. Pernah juga ingin keluar dari lingkaran, tapi itu semua tak mampu meredam kegelisahan.
Sebuah Loyalitas
Kita sadar akan pentingnya sebuah loyalitas. Namun bukan loyalitas yang hanya sekadar ritual dan simbol-simbol bagian dari sebuah loyalitas, tapi yang diperlukan adalah sebiuah komitmen (iltizam) yang benar-benar mampu menyirami dahaga dengan air yang menguatkan sendi-sendi kehidupan.
Dakwah memang berat. Namun akan terasa ringan jika dikerjakan dengan keikhlasan hati, tanpa harus membeda-bedakan kelas apalagi senioritas dan junioritas. Kita adalah satu, yang memerlukan kerjasama untuk mencapai apa yang ingin kita cita-citakan. Tapi terkadang semua itu berat untuk dilakukan. Terkadang ada orang yang menginginkan kita seperti ini dan ini tanpa pernah tahu apa yang kita inginkan.
Kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan, keburukan, maupun kelalaian. Namun ternyata sikap yang kita anggap itu kebaikan tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah. (Calon Orang Besar Memulai Perubahan, Aa Gym).
Lagi, Lagi, dan Lagi
Dualisme, tigalisme, bahkan empatisme. Mungkin itulah yang selalu menjadi wacana dalam keseharian kita. Entah apa yang jadi penyebabnya. Kekurangan kader, ataukah memang kita yang murah dan mudah mengemban sebuah amanah. Hingga seolah-olah tidak pernah memperhatikan orang-orang yang ada di samping kita.
Ukhuwah Kita
Terkadang kita menjadi orang-orang yang sangat idealis. Sehingga menganggap hanya kitalah yang paling bisa. Tapi entah bagaimana yang harus dilakukan ketika orang-orang yang berada di samping kita tidak peka terhadap apa yang harus terjadi. Sehingga sebuah pekerjaan yang seharusnya menjadi momen indah, hilang terbawa arus gelombang kehidupan.
Lalu Dimana Cinta Kita
Kita hidup di alam yang senantiasa mengikuti arah mata angin. Kadang ke barat, timur, utara, selatan, atau bahkan berputar ke semua arah (yang seyogyanya kitalah yang harus mengendalikan arah mata angin tersebut). Jika kita tidak benar-benar mampu untuk berpegangan, kita pasti terhempas oleh kencangnya angin kehidupan. Meski bagaimanapun, kita akan tetap merasakan kencangnya angin tersebut.
Satu hal yang perlu kita sadari, kita disini disatukan oleh cinta. Yakni cinta yang Allah berikan tidak kepada setiap orang. Hanya sebagian saja. Yakni cinta kepada dakwah. Hanya masalahnya sekarang apakah kita menjadi terlena dengan anugerah itu. Ataukah kita telah benar-benar menjaga kesucian cinta itu. Hanya masing-masing dari kitalah yang mampu untuk menjawabnya.
Sekarang, marilah kita mulai berbenah diri dari segala bentuk kebodohan yang telah ataupun yang belum kita kerjakan. Untuk hidup kita, untuk sosial, untuk dakwah, dan untuk satu nama yaitu al-Haq. Selamat berjuang di jalan yang berduri.
Cholidudin, Muamalat (Griya Tamaddun, Mei 2007)
No comments:
Post a Comment